Al-azhar memang tak setua sejarah tetapi masih aktual untuk di perbincangkan (Blog lama https://cuenkx.wordpress.com)
ADALAH Khalifah Mu’iz li Dinillah Ma’ad bin al Manshur (931-975 M)-khalifah keempat dari Dinasti Fatimiyah yang berkuasa di Mesir saat itu mencetuskan ide mendirikan sebuah masjid sebagai sentral kebudayaan dan pendidikan Islam. Ide brilian Khalifah Mu’iz itu kemudian dikenal dengan institusi pendidikan Al Azhar, yang hingga saat ini terus menjadi tujuan belajar para pelajar dari seantero dunia Islam. Debut historisnya bermula ketika panglima Jauhar As Shiqly memasuki Mesir pada tahun 17 Sya’ban 358H/6 juli 969M yang kemudian membangun sebuah kota dengan sentral militernya di selatan Fusthath. Pada tanggal 24 Jumadil ‘Ula 359H/7 Mei 970M dimulailah pembangunan masjid agung sebagai markaz li nasyr al-din wa al-da’wah. Dalam kurun waktu selama dua tahun tiga bulan selesailah pembangunan masjid tersebut yang bertepatan pada hari jum’at tanggal 7 Ramadhan 361H/23 juni 972M dan seketika itu juga dipergunakanlah untuk sholat jum’at. Masjid tersebut adalah merupakan masjid pertama kali yang didirikan di kota Qohiroh yang mana pada akhirnya dinamakan dengan masjid Qohiroh. Kemudian pada masa khalifah al Aziz Billah di sekeliling masjid ini dibangun dua istana megah yang mana kedua istana tersebut dipisahkan oleh sebuah taman yang sangat indah. Posisi jami’ ini terletak disebelah barat taman tersebut. Tata kota Cairo di sekitar istana ini benar-benar menakjubkan yang sehingga akhirnya jami’ Qohiroh dikenal sebagai Jami’ Al-Azhar, berasal dari kata Zahra’`yang berarti bercahaya dan berkilauan. Ada yang mengatakan karena pesatnya kemajuan dibidang ilmu pengetahuan, ada juga yang menisbatkannya kepada putri Rasulullah Fatimah Az Zahra’ RA. Debut bangunan masjid ini hanya terdiri dari hamparan masjid (yang sekarang bagian terbuka) dan dikelilingi dengan tiang-tiang besar yang mempunyai dua sisi bangunan. Keduanya terdiri dari tiga ruwak (tempat yang terletak antara tiang-tiang). Kemudian ditambah dengan ruwak-ruwak baru, sekolah dan mihrab-mihrab, menara Al-Azhar dan tempat wudlu. Kemudian dalam perkembangannya Al-Azhar mengalami renovasi dan perluasan-perluasan sehingga tampak lebih bagus. Dengan berbagai tambahan dan perluasan akhirnya Al-Azhar termasuk salah satu masjid terbesar yang ada di Mesir. Kini Al-Azhar memiliki lima menara dengan bentuk yang berbeda dan dibangun dalam waktu yang berlainan. Dua diantaranya dibangun pada masa Abdurrahman Katakhda yg sekarang dikenal dengan bab el mazinain. Satu lagi dibangun pada masa Sulthan Qaytaba. Dan satu lagi menara terbesar yang mempunyai dua puncak kepala yang indah dibangun pada masa Sulthan Al Ghauri. Selain itu memiliki enam mihrab dan tiga buah kubah serta 380 tiang. [1]
Dalam belantika dunia keilmuan, Al-Azhar merupakan universitas tertua setelah Andalusia, tidak hanya di dunia islam, namun diseluruh dunia karena universitas-universitas di Amerika dan eropa baru didirikan dua abad setelah didirikannya Al-Azhar, seperti universitas paris didirikan pada abad ke-12 Masehi, universitas oxford di inggris pada abad ke-13, demikian juga universitas–universitas Eropa lainnya yang meniru serta menjiplak metode pengajaran dari Andalusia setelah meruntuhkannya. Al-Azhar merupakan universitas pertama yang para pengajarnya didanai oleh negara. Posisi mesir yang strategis ditengah dunia islam, menjadikan Al-Azhar yang hingga saat ini terus menjadi tempat tujuan belajar para pelajar agama dari seantero dunia Islam.
Tingginya kedudukan Al-Azhar bukan karena tertua atau tidaknya, tapi karena besar peran yang dijalankan selama eksisnya dalam menjaga kemurnian otentisitas serta orisinalitas ulumuddiniyyah al shohihah, peradaban islam dan bahasa arab sebagai bahasa al qur’an dan sunnah Rosul SAW seperti yang disebutkan oleh muhammad kamal al-sayid muhamad dalam karyanya yang berjudul Al-Azhar jami’ah wa jami’ah Au Mishr fi Alfi ‘Am.[2]
ADAPUN tradisi pemberian harta wakaf-baik dari kantung pribadi muhsinin maupun kas negara pada lembaga pendidikan Al Azhar, itu menjadi kunci bagi kelestarian lembaga pendidikan Islam yang sudah berusia lebih dari 1.000 tahun itu. Penggagas pertama pemberian harta wakaf untuk lembaga pendidikan Al Azhar itu adalah Khalifah Al Hakim Bin Amrillah. Gagasan Khalifah Bin Amrillah itu, ternyata menjelma menjadi sebuah tradisi yang tidak hanya terbatas di Mesir, tetapi meluas ke negara-negara Islam lain. Konon, harta wakaf milik lembaga pendidikan Al Azhar itu pernah mencapai sepertiga kekayaan negara Mesir. Dari harta wakaf itulah aktivitas lembaga pendidikan Al Azhar terus berputar, termasuk memberikan beasiswa, membangun asrama dan pengiriman delegasi Al Azhar ke berbagai penjuru dunia, bahkan mendirikan cabang-cabang Al Azhar di luar Mesir.
Sebagai institusi pendidikan Islam, semula Al Azhar menjadi pusat penyebaran Syi’ah.
Namun,Setelah meninggalnya kholifah Al-’Adhid lidinillah pada 3 muharram 567 H/ 6 september 1171 M, berpindahlah tampuk kepemimpinan kepada Sholahuddin Yusuf bin Ayyub (wazirnya) memegang tampuk kekuasaan mesir. Dari sinilah berakhir kekuasaan fatimiyah di Mesir dan bergantilah pemerintahan negeri Al-Azhar itu ditangani Daulah Ayyubiyah Sunniyyah yang memberantas habis madzhab Syi’ah.[3] Dalam rangka menghilangkan syi’ar-syi’ar aliran syi’ah, Sholahuddin mengikuti fatwa qodhinya yang bermazhab Syafi’i bahwa tidak boleh ada dua khuthbah dalam satu kawasan, sehingga sholat jum’at di jami’ Al-Azhar ditiadakan dan cukup dengan khutbah sholat jum’at di jami’ Al-hakimi. Karena fatwa ini, jami’ Al-Azhar tidak dipakai sholat jum’at kurang lebih selama seratus tahun. Kendati pun demikian, Al Azhar tidak serta merta lantas mati, yang kemudian baru digunakan sholat jum’at lagi ketika masa sultan al-Dzahir bebers ( masa mamalik dimesir) hari jum’at 18 Robi’ul Awal 665H / 17 desember 1267.[4] Sholahuddin disamping meniadakan sholat jum’at di jami’ Al-azhar, juga memajukan sistem pendidikan dengan beberapa ide inovasi yaitu mencetuskan harokah ilmiyyah Sunniyyah sampai level pendidikan tinggi didukung oleh para pengajar dari ulama – ulama yang sangat takhossus dibidangnya masing – masing, serta mendirikan berbagai macam fakultas Al Ayubiyah sebagai pengganti jami’ Al-Azhar untuk mengajarkan madzhab ahli sunnah wal jama’ah dengan diawali pendirian fakultas Al Nashiriyah Al Sholahiyah takhossus madzhab Syafi’i, kemudian diteruskan pada pendirian fakultas Al Qomhiyah disamping masjid Amr bin Ash untuk takhossus madzhab maliki, fakultas Al Suyufiyah takhossus madzhab hanafi, fakultas Al Adiliyyah dinisbatkan kepada Al Malik Al Adil Abi Bakr Bin Ayyub saudaranya Sholahuddin, fakultas Al Taqwiyyah yang takhossus madzhab maliki dinisbatkan kepada Qodli qudhot Taqiyyudin Abi Ali Al Husain bin Syarifuddin, fakultas Al Arsufiyyah (570H) dinisbatkan kepada Afifuddin Abdullah bin Muhammad al Arsufi Al Asqolani, fakultas Al Fadliliyyah (580H) takhossus madzhab syafi’i dan maliki dinisbatkan kepada Al Qodli Al Fadlil Wazirissulthon Sholahuddin, fakultas Azkasyiyah (592H) takhosus madzhab hanafi didirikan oleh Syaifuddin Ayazkuj Al Asadi, fakultas Al Kamilah takhossus madzhab Hambali dinisbatkan kepada Al Kamil Nashirudin Muhamad (615-625H), fakultas Al Sholihah (darisinilah muncul berbagai macam perkembangan inovasi mulai dari fiqh, hadits, tafsir, qiro’at, mantiq, hisab, balaghoh, nahwu, Arsitek, astronomi sampai musik dalam berbagai macam tingkatan menurut kebutuhannya) dinisbatkan kepada Al Sholih Najmudin Ayyub (637-647H) dll… konon sampe mencapai 25 fakultas dimana yang terpopuler adalah fiqh madzhab Syafi’i karena merupakan madzhab resmi daulah Ayyubiyyah. [5]
Pada masa daulah Mamalik, khususnya masa raja Al-dzohir bibers, jami’ al-Azhar mulai direnovasi dan rekonstruksi digunakan sholat jum’at lagi serta mengembalikan ruh pendidikan yang menjadi cita-cita berdirinya Al-Azhar. Kegiatan keilmuan dan nuansa cakrawala berpikir serta berwawasan mulai merebak di sudut-sudut kota. Dan mencapai puncak kegemilangannya sepanjang sejarah selama rentang waktu pada abad XV H serta kembali posisinya menjadi lembaga ilmiah dengan reputasi tinggi sebagai pusat pengajaran berbagaimacam ilmu, bahkan menjadi pusat keilmuan teramai di seluruh dunia islam. [6]
Ada dua faktor yang menjadikan jami’ah Al-Azhar sebagai pusat keilmuan teramai saat itu, yaitu:
1.Expansi yang dilakukan oleh pasukan Tartar Mongol hingga menaklukkan daulah Abbasiyyah kedua di Bagdad sehingga kepemimpinan islam berpindah ke mesir 660-923 H. Akibat serangan tentara Tartar, terjadi pembakaran jutaan kitab, perpustakaan serta aset-aset muslim saat itu, yang akhirnya banyak para ulama’ muslim timur hijrah menuju Mesir.
2.Umat islam di Andalusia (spanyol) ditindas oleh kaum salibis Eropa, pembantaian besar-besaran yang terjadi secara membabi buta, hingga banyak para ulama’ dunia islam bagian barat hijrah ke timur dengan tujuan Mesir juga.
Kondisi ini semakin terpacu ketika Baghdad sebagai pusat peradaban kala itu diluluhlantakkan oleh pasukan Tartar Mongol. Selain itu kesadaran dari berbagai kalangan kian mengkristal dan mencari solusi akan derita serta problematika umat yang dihadapi kala itu. Berbagai program inovasi dicanangkan termasuk penggalakan mencerdaskan kehidupan umat serta menyadarkannya akan realita yang terjadi dengan dibantu oleh banyaknya ulama-ulama Baghdad dan Andalusia yang mengungsi ke Mesir. Dua hal inilah diantara faktor penyebab Al-Azhar menjadi menara keilmuan dunia islam saat itu. Dari situlah para ulama dan penuntut ilmu berduyun-duyun dari berbagai penjuru dunia menuju al-Azhar untuk mengembangkan maupun menimba ilmu. Berbagai disiplin ilmu dipelajari, mulai dari ilmu-ilmu al-Qur’an, hadits, fiqh, kalâm, ushûl, tarikh, balâghoh, nahwu, shorof, khitobah sampai ilmu-ilmu eksakta, seperti matematika, aritmatika, geologi, falak, kimia, arsitektur serta beberapa disiplin ilmu-ilmu lainnya juga dikembangkan. Ada satu hal yang perlu dicatat bahwa orientasi pendidikan keilmuan dan keagamaan saat itu tak lagi berkiblat ke madzhab Syi’ah, namun dibangun atas aqidah Ahlussunnah wal jama’ah. [7]
Pada abad VI Hijriah mulai dipelajari ilmu bayan dan Mantiq, Syeikh Abdul Lathif adalah penggagasnya. [8] Demikian halnya pada waktu pemerintahan Daulah Utsmaniah, bahasa Arab masih bertahan menjadi bahasa ibu dan bahasa resmi bangsa Mesir sehingga masih menjaga peradaban Arab yang asli.
Pada masa Mamalik perkembangan jami’ Al Azhar semakin meluas sampai dikenal ruwaq tempat mukim orang–orang dari daerah-daerah bahkan luar mesir, namun tidak sebanyak ruwaq pada masa Utsmaniyah, sampai ada 37 ruwaq jawa, tempat mukim orang–orang dari indonesia dan sekitarnya.
Sementara itu, konversi administrasi Al Azhar sudah dimulai pada masa pemerintahan Sultan Ad-Dhohir Barquq dari Dinasti Mamalik dengan mengangkat Bahadir At-Thawasyi sebagai direktur pertama Al Azhar. Kebijakan Sultan Ad-Dhahir itu merupakan upaya awal untuk menjadikan Al Azhar sebagai yayasan keagamaan yang yang membentengi Mesir dari berbagai macam goncangan.
Pada era itu, terpilih Sheikh Muhammad Al-Khuraasyi sebagai sheikh Al Azhar pertama. Secara keseluruhan mencapai 40 sheikh yang telah memimpin Al Azhar selama 43 periode. Saat ini, sebagai Sheikh Al Azhar adalah mantan Mufti Nasional Mesir Sheikh Muhammad Sayyed Tanthowi.[9]
Masa keemasan Al Azhar terjadi pada abad ke-15 M, ketika banyak ilmuan dan ulama Islam bermunculan dari lembaga pendidikan Islam tertua tersebut. Misalnya: Ibnu Khaldun, Abul Abbas Ahmad Al Qolqosyandiy, Taqiyyudin Ahmad Al Maqriziy, Ibnu Hajar Al ‘Asqolaniy, Badruddin Mahmud Al ‘Ainiy, Sirojuddin Al Bulqiniy, Syarifuddin Al Manawiy, Abul Mahasin bin Thughriy Bardiy, Syamsuddin Al Sakhowiy, Jalaluddin Abdurrahman Al Suyuthiy, ibnu Hajar Al Haitamiy, Ibnu Hajar Al Qostholaniy, Al Farisiy, Al Khawiy, Abdul Latif Al Baghdadiy, Ibnu Khaliqan, imam kamaluddin al Damiriy, Zakaria Al Anshoriy, Syeh Abdul Wahab Al Sya’roniy, Al Zubaidiy, Syeh Hasan Al Jabarutiy, Syeh Abdul Qohir al jurjaniy, Syeh Ibrohim Al Bajuriy dan ulama ulama lainnya, yang telah mewariskan berbagai macam ensiklopedi islam.[10]
Perkembangan Kurikulum Pendidikan Al-Azhar[11]
SUARA pembaruan terhadap sistem pendidikan Al Azhar mulai muncul pada era kepemimpinan Muhammad Ali Pasha, dimana saat itu ia mulai memperkenalkan sistem pendidikan modern. Proses reorganisasi sistem pendidikan di Mesir semakin gencar pada era pemerintahan Khedive Ismail Pasha (1863-1879 M). Seiring dengan itu, sistem pendidikan tradisional yang masih diterapkan di lembaga pendidikan Al Azhar terus mendapat tekanan.
Al Azhar pun akhirnya merekonstruksi dan meningkatkan sistem serta menyesuaikan diri dengan tuntutan inovasi tersebut. Di antara perubahan awal yang menonjol adalah diterapkannya sistem ujian untuk mendapatkan ijazah Al ‘Alamiyah (kesarjanaan) Al Azhar diprakarsai oleh syeikh Muhammad Mahdi pada tahun 1287 H. Dan untuk pertama kalinya dibentuk Idarah Al-Azhar (Dewan Administrasi). Dewan itulah yang mengeluarkan peraturan membagi masa belajar di Al Azhar menjadi dua periode, yaitu pendidikan dasar (delapan tahun) serta pendidikan menengah dan tinggi (12 tahun). Kurikulum Al Azhar lalu diklasifikasikan dalam dua bagian, Al ‘Ulum Al Manqulah (bidang studi agama) dan Al ‘Ulum Al Ma’qulah (studi umum).
Ketika era kolonisasi merambah ke Mesir terutama dengan masuknya Perancis tahun 1798 M kegiatan Al-Azhar sempat terganggu. Terlebih setelah Syeikh Syarqowi menutup Al-Azhar pada 22 Juni 1800 M kemudian membuka kembali pada Oktober 1801 M, yaitu pada saat Inggris menggantikan kedudukan Prancis di Mesir.
Pada tahun 1864 M Kantor Administrasi Syeikh Al-Azhar mengeluarkan keputusan tentang materi-materi yang dipelajari di Al-Azhar: Fiqh, Nahwu, Shorof, Ma’âni, Bayân, Badi’, Matan Lughoh, ‘Arûdh, Qofiyah, Falsafah islamiyah, Tashawuf, Mantiq, Hisab, Aljabar, Falak, Enginering, Sejarah dan Rosm al Mushhaf. Dan tenaga pengajar adalah para alumni yang telah menamatkan sedikitnya sebelas disiplin ilmu diatas dan harus lulus seleksi yang mana penyeleksian ditangani majelis yang terdiri dari beberapa personil anggota lajnah ‘ilmiyyah li tarqiyyatil asatidzah yang diketuai syeikh Al-Azhar.
Dan pada tahun 1896 M mulai ada transkip nilai seperti sekarang, serta dibuka spesialisasi -spesialisasi seperti hukum dan qodlo` serta dakwah. Selain itu Al-Azhar juga membuka cabang-cabangnya di beberapa propinsi besar di Mesir.
Memasuki abad ke-20, Al Azhar semakin membentangkan cakrawalanya yang ditandai dengan kesediaannya mempelajari sistem penelitian. Pada tahun 1930, Al Azhar mengeluarkan Undang-Undang (UU) Nomor 49 Tahun 1930 tentang Aturan Sistem Pendidikan Dasar hingga Perguruan Tinggi, serta membagi Universitas Al Azhar menjadi tiga fakultas, yaitu Fakultas Syariah, Fakultas Ushuluddin, dan Fakultas Bahasa Arab.
Pada tahun 1961, angin pembaruan kembali berhembus kencang lewat UU No 103/1961. UU tersebut mengizinkan lulusan SD atau SMP Al Azhar Mesir melanjutkan studinya ke SMP dan SMA yang berafiliasi ke Departemen Pendidikan atau sebaliknya. Selain itu, Al Azhar disamping fakultas-fakultas keislaman menambah berbagai fakultas ‘ulumul ‘ammah (sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu yang msih dalam halaqoh-halaqoh kecil, belum ditakhossuskan, belum terorganisir), serta lokasi perkuliyahannyapun disendirikan, seperti kedokteran, psikologi, perdagangan, sains, pertanian, tehnik, arsitektur dan farmasi. Juga untuk pertama kalinya dibuka fakultas khusus banat dengan berbagai jurusannya.
contoh kecil fenomena Perjuangan Al-Azhar[12]
Dalam rekaman fenomena Al-Azhar tercatat senantiasa berjuang melawan segala bentuk imperialisme di muka bumi. Sebuah contoh realita adalah ruh perjuangan yang ditanamkan Al Azhar pada rakyat benar-benar mengakar sehingga rakyat bangkit dengan revolusi 21 Oktober 1798 M. Al-Azhar dijadikan pusat pergerakan dan penggemblengan. Syeikh Al-Sadât diangkat sebagai koordinator umum. Sebagian orang mengumpulkan sukarelawan, senjata dan ratusan yang lainnya menyebar ke seluruh pelosok negeri mengobarkan semangat jihad kepada rakyat serta mengajaknya berkumpul di Al-Azhar. Sampai akhirnya Terkumpul sekitar 8000 orang, Syeikh Umar Makram dan syeh Syarqowi memimpin massa bergerak di jalan-jalan kota meneriakkan panggilan jihad kepada seluruh penduduk Mesir untuk mengusir Perancis, hingga akhirnya terbunuhlah Jendral Debuih kepala perwakilan pemerintahan Perancis di kota Qohiroh.
Tak ayal lagi Perancis kaget dan membabi buta mengumbar kemarahannya. Moncong-moncong meriam diarahkan ke tubuh-tubuh yang tak berdosa. Tembok-tembok Al-Azhar pun tak luput dari sasaran tembak puluhan bom-bom. Darah para putra-putri Mesir menggenang di jalanan. Jumlah korban diperkirakan 4000-an termasuk wanita dan anak-anak. Memang setelah terjadi peristiwa ini banyak penangkapan dan intimidasi terhadap ulama serta tokoh-tokoh Islam. Namun Prancis tak mampu bertahan lama. Terbukti dengan terbunuhnya gubernur ditangan santri Al-Azhar, Sulaiman Al Halaby, yang mana pada akhirnya ia tertangkap dan digantung.
Setelah Prancis hengkang dari Mesir, mulailah Inggris menapakkan imperialisnya dan Al-Azhar pun tak henti-hentinya menyuarakan semangat jihad kedalam segala relung kehidupan rakyat. Pada tahun 1807 M adalah contoh konkrit bentuk perlawanan Al-Azhar dan rakyat Mesir terhadap Inggris. Perjuangan Al-Azhar bukan hanya melawan penjajahan juga memberantas kediktatoran hukum dan pemerintahan dalam negeri (meskipun untuk peran nyatanya sekarang mengalami berbagai kendala politik dengan kehilangan sarana konkrit).
Para ulama Al-Azhar lah yang memotori revolusi Orabi. Ahmad Orabi adalah seorang santri Al-Azhar beserta Ulama-ulama berada di garda terdepan menantang maut membela Islam melawan Inggris pada revolusi 9 Maret 1919 M. Pada even selanjutnya Saad Zaghlul yang juga pemimpin revolusi adalah putra Al-Azhar disamping juga mulai bangkitnya kesadaran jihad yang menyala-nyala kalangan kaum wanitanya.
Al-Azhar terus menyeru tak henti-hentinya melawan penjajahan dan thoghut sampai akhirnya benar-benar terwujud impian itu dengan berakhirnya revolusi Mesir pada 23 Juli 1952 M. Mesir dipimpin Gamal Abdel Nasser melakukan revolusi memaksa Raja Faruk untuk menyerahkan jabatannya. Dan akhirnya sistem pemerintahan Mesir dari kerajaan berubah menjadi republik. Muhammad Naguib terpilih menjadi presiden pertama Mesir.
Kekuatan asing pun akhirnya terpaksa menyingkir dari Mesir. Terhitung sejak 18 Juni 1956 yang oleh Mesir diperingati sebagai idul jala (hari hengkangnya Inggris).
Al-Azhar yang paling populer[13]
Seperti halnya di Indonesia, di Mesir pun terdapat banyak perguruan tinggi. Hanya saja, Al-Azhar yang paling terpopuler baik masyarakat Mesir maupun masyarakat internasional. Berdiri pada 24 Jumadil Awwal 359 Hijriah (979 M), pada awalnya Universitas Al-Azhar adalah semacam halaqoh (pertemuan reguler) untuk mengkaji masalah agama. Tempatnya di Masjid Jami’ Al-Azhar, yang dibangun pada masa Daulah Fatimiyah. Karena perkembangannya sangat pesat, diputuskan untuk mendirikan lembaga pendidikan, juga dengan nama yang sama, Universitas Al-Azhar.
Hingga kini, Universitas Al-Azhar memiliki kurang lebih 65 fakultas, baik ilmu keagamaan maupun ilmu umum. Bagi mereka yang mengambil bidang studi keislaman, Al-Azhar tak memungut biaya alias gratis. Namun untuk ilmu-ilmu umum dikenakan biaya yang cukup besar. Universitas Al-Azhar tak hanya terdapat di Qohiroh, tapi juga terdapat di setiap propinsi (27 propinsi) di Mesir. Statusnya adalah cabang dengan dipimpin oleh dekan. Sementara untuk pusat dipimpin rektor. Namun pimpinan tertinggi yang membawahi universitas beserta lembaga-lembaga yang dikelola Al-Azhar adalah setingkat Perdana Menteri (PM), bergelar Syeikhul Akbar yang kini dijabat Prof. Dr. Mohammed Sayyed Thonthowi.
Selain universitas, Al-Azhar juga mempunyai lebih lima dari rumah sakit, puluhan yayasan sosial dan panti sosial, jutaan hektar tanah yang disewakan, dan ribuan sekolah dari tingkat dasar hingga menengah atas. Jumlah mahasiswa mencapai sekitar 250 ribu orang yang selalu bertambah setiap tahunnya dari 98 negara dimana kebanyakan mahasiswa asing mengambil disiplin ilmu-ilmu keislaman. Al-Azhar sendiri, yang kini telah berusia lebih dari 1035 tahun, tetap mandiri dan konsisten. Semua pembiayaan didanai oleh hasil wakaf dan usaha-usaha yang dikelola Al-Azhar.
Universitas Al-Azhar masih tetap melanjutkan visi dan misinya, memperbaiki kinerja, sholihun li kulli zaman wal makan yang merupakan benteng pertahanan keilmuan dan pemikiran dari hunjaman, serangan orientalis dan mulkhidin serta musuh-musuh Islam lainnya. Al-Azhar merupakan institusi keilmuan Islam yang besar yang kredibel, akuntabel dan tetap dalam idealismenya, menjadi media perjuangan bagi kebenaran dan anti kesewenang-wenangan dengan tetap menjaga serta mengedepankan otentisitas dan orisinalitas turats Islami yang berhaluan ahlussunnah wal jama’ah dan ber’aqidah Asy’ariyah serta menyebarkan misi dan amanah Islamiyah kepada segenap umat di pelosok-pelosok bumi.
AL Azhar kini merupakan sebuah institusi Perguruan Tinggi dengan entitas pendidikan yang mempunyai kultur akademik sangat kondusif bagi pengembangan potensi yang memasukkan semua disiplin ilmu menerapkan model kuliah yang diklasifikasikan dalam dua kelompok, yaitu Fakultas ‘Ilmi (sains) dan Adaby (agama). Model perkuliahan di Al Azhar mirip semi-kredit. Pelaksanaan ujiannya (saat ini) dibagi dalam dua term. Pada setiap term diujikan setengah dari total mata kuliah. Jika dalam setahun ada 14 materi kuliah, maka pada term pertama diujikan tujuh materi, sisanya diujikan pada term kedua. Sistem tersebut mulai diterapkan pada tahun akademik 1996/1997, dan hanya berlaku untuk mahasiswa program S-1.
Cara belajar di Universitas Al Azhar, khususnya fakultas Adaby/keislaman, tidak berubah dari dulu hingga sekarang. Mahasiswa datang, duduk, dan mendengar penjelasan doktor. Kalau ada yang tidak jelas, diberi waktu bagi para mahasiswa untuk bertanya langsung pada doktor. Memang telah diformat dalam bentuk presentasi (muhadloroh) sedemikian rupa agar mahasiswa lebih banyak memanfaatkan waktu untuk mengumpulkan informasi serta menganalisis apa yang telah diterimanya.
Di samping muhadloroh, para doktor telah menyusun muqorror agar supaya mahasiswa dapat lebih mudah dalam memahami dan menganalisis tekstual Nash untuk setiap mata kuliah yang akan menjadi sumber bahan ujian. Muqorror itu biasanya disusun sendiri oleh doktor atau lajnah yang ditunjuk fakultas, dengan mengambil rujukan berbagai kitab turost dan mu’asyiroh.
Bagi mahasiswa ada kelonggaran tidak wajib hadir dalam seluruh muhadloroh, tetapi bagi fakultas tertentu kadang ditetapkan peraturan tak boleh mengikuti ujian bagi yang tidak hadir minimal 75 persen dari jam kuliah. Bahan muhadloroh merupakan penjelasan dari muqorror itu, serta ditambah dengan keterangan yang berkaitan dengan materi tersebut.
Belajar di Al Azhar sangat menekankan aspek hafalan. Jika jawaban ujian melenceng jauh dari muqorror, maka nilainya akan berkurang. Namun, ada mata kuliah tertentu yang menuntut ketajaman analisa dan kepiawaian mengekspresikan arabic language.
Universitas Al Azhar memberi dispensasi “bebas biaya pendidikan” alias gratis untuk mahasiswa fakultas keislaman. Mahasiswa tersebut hanya perlu beli muqorror/diktat kuliah yang diterbitkan Al Azhar dan sedikit biaya administrasi pembuatan kerneh/kartu mahasiswa.
Demikianlah sekilas profil Universitas Al Azhar yang terkenal itu, pembangun idealisme dan intelektualitas transformatif nilai-nilai keilmuan yang masih tetap menjaga otentisitas serta orisinalitas dan menjadi tempat tujuan belajar para pelajar agama dari seantero dunia Islam.
Belajar di Mesir, Siapa Takut!!!
Sampai kini, Mesir masih menjadi idola sebagian besar para peminat studi ilmu-ilmu keislaman. Maklum, di negeri Lembah sungai Nil ini terdapat universitas tertua di dunia, Universitas Al-Azhar. Dari data yang ada menunjukkan, minat para calon mahasiswa asal Indonesia terus meningkat. Kebanyakan mereka mengambil bidang studi ilmu-ilmu keislaman di Universitas Al-Azhar, dan beberapa orang lainnya di Universitas Kairo maupun Universitas ‘Ain Syams, dua universitas bergengsi selain Al-Azhar.
Penurunan angka sempat terjadi saat krisis menghantam Indonesia. Dubes RI saat itu, Hassan Wirayuda, berupaya keras bersama-sama pihak Al-Azhar dan kalangan pengusaha setempat menyelamatkan sebagian mahasiswa yang terancam putus kuliah akibat badai krisis.
Untuk studi di Mesir, khususnya di Universitas Al-Azhar, sebenarnya tak terlalu berat, hanya membutuhkan biaya hidup per bulan dan membayar diktat kuliah. Itu pun hanya setiap semester saja. Tak ada uang SPP atau pungutan lainnya.
Sementara itu, menanggapi minat calon mahasiswa Indonesia ke Mesir yang demikian besar, intelektual Muslim yang juga pengamat Timur Tengah, Azyumardi Azra menyatakan, bahwa animo yang besar itu membuktikan Mesir masih sebagai pusat intelektualisme Islam. “Sampai saat ini, Mesir bisa dibilang sebagai kiblat studi keislaman, dan itu sudah sejak dari dulu,” ujar mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta (1998-2006).
Sementara itu, Rektor Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb menyambut baik calon mahasiswa Indonesia yang hendak menuntut ilmu ke negerinya. Menurut Ahmed Al-Tayeb, meningkatnya peminat studi ke Mesir menunjukkan adanya kerjasama yang baik antara Indonesia dan Mesir. “Sejarah mencatat, hubungan kedua Indonesia dan Mesir telah terjalin jauh sebelum Indonesia dan Mesir merdeka. Kala itu melalui para mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Mesir, ikut berjuang mengusir penjajah Belanda dengan melobi para pemimpin Mesir dan Arab lainnya,” imbuhnya.
Terkait dengan adanya berita Intervensi As terhadap kurikulum Al Azhar yang sedang santer diangkat di koran-koran harian Mesir sampai saat ini masih kontroversi dan dilematis. Mengapa demikian, karena hal ini memang merupakan masalah yang cukup krusial dan terkesan subyektif, yang mana pada akhirnya bisa terungkap jelas dengan adanya penuturan Grand Syeikh Tantawy: ” hal itu sangat keliru. Itu tidak benar. Sama sekali tidak benar, tidak mungkin AS bisa intervensi pada kurikulum Azhar juga Negara mana pun tidak akan bisa intervensi, termasuk Indonesia. Karena, yang namanya institusi pendidikan Islam di mana pun yang menentukan kurikulum adalah ulama Islam itu sendiri bukan AS atau yang lainnya” ungkap Syeikh dengan nada keras. beliau mengatakan itu sambil berjalan agak tergesa-gesa, meninggalkan arena multaqa al fikr al islamy (sebuah acara diskusi kegamaan yang digelar setiap malam selama Ramadhan di mesjid Hussein depan Universitas Al Azhar). hal ini juga pernah diutarakan oleh beliau setelah selesai kajian Tafsir di masjid asrama islamic missions Al Azhar kairo. Meski dalam pengawalan sangat ketat, beliau masih sempat bicara dengan nada tinggi. “Tak ada satu pun orang luar Al Azhar, yang bisa melakukan intervensi, campur tangan sedikit pun dalam urusan intern Al Azhar. Tak ada seorang pun, apakah dia itu orang Saudi, Amerika, atau juga orang Indonesia. Kurikulum adalah urusan intern kami, para ulama besar di Al Azhar Al Syarief. Oya, Anda siapa? Darimana?”
Itulah cuplikan kisah yang saya alami dalam rangka menemui Grand Syekh Al Azhar, meski beberapa detik, dalam pengawalan ketat, beberapa waktu lalu. Berhari-hari saya mencari orang nomor satu di Al Azhar itu. Susahnya minta ampun. Maklum, di Mesir ini, posisi grand syekh Al Azhar setara dengan Perdana Menteri. Kemanapun dia pergi, selalu diiringi pengawalan aparat berwajah serem. Saya mencari beliau, sekedar ingin mendengar ucapannya langsung. Sekali lagi, komentar langsung, bukan sekedar cerita orang atau berita dari Koran.
Sedangkan yang menyangkut peniadaan kurikulum hafalan Al Quran, saya ingat, memang pernah ngetrend di kalangan ulama Mesir. Beberapa minggu sebelum Ramadhan, isu ini sempat muncul, tetapi sesaat, setelah itu langsung tenggelam. Peniadaan kurikulum hafalan Al Quran bagi Al Azhar, dalam hemat saya, akan sangat sulit. Grand Syeikh Tantawy pernah menyatakan bahwa “Laisa Azhariyan Man lam yahfadz Al Qur’an” (belum bisa dikategorikan mahasiswa Al Azhar secara haqiqi kalau belum bisa hafal Al Qur’an).
Menanggapi isu tersebut, Rector Universitas Al Azhar yang baru, Ahmed Al Tayeb menyatakan bahwa akan menerapkan aturan penambahan kewajiban hafalan bagi mahasiswa asing non Arab, dari asalnya 2 juz per tahun, menjadi 2,5 juz. “Al Azhar dalam pengajarannya masih tetap Al Azhar yang dahulu, yang selalu konsisten, tegar dalam memegang komitmen menjaga kemurnian ajaran islam dengan tujuan li i’ilaai kalimatillah yang berlandaskan ‘aqidah Asy’ariyah serta bermadzhabkan Ahlussunah wal jam’ah,” tambahnya. Menurutnya, pihak universitas tetap memakai manhaj salaf al sholihin.
“Kami percaya bahwa di atas naungan Al-Azhar University, sebuah benteng Mesir dan Islam, membawa panji-panji ilmu dan pengetahuan keislaman yang berkesinambungan sampe berabad-abad, mengajarkan ‘aqidah islam yang benar, berhujjah dengan sains dan pengetahuan, menjadikan dirinya perisai dan Nation of Islam,” jelas Ahmed Al-Tayeb.
Footnote :
[1] Dr.Abdel Aziz M. El Syennawy, Al_Azhar as a Mosque And as a University, Anglo – Egyptian Bookshop, Cairo, 1983, juz 1, hlm. 21-240.
[2] Muhamad Kamal Al sayid Muhammad, Al-Azhar jami’an wa jami’ah au mishr fi Alfi’am , Majma’ Al buhuts Al –islamyyah , kairo tahun 1406 H/ 1986 M..
[3] Dr. Jamaluddin Al Syiyal, Masr fil ‘Ushril Fathimiy, hlm. 456.
[4] Al Qolqosyandiy, juz 3, hlm. 364.
[5] Dr. Abdul Aziz muhamad Al syanawi, Al Azhar Jami’an wa Jami’atan, juz 1, hlm. 104.
[6] Dr. Abdel Rahman Zakkiy, Al Azhar Wama Haulahu Minal Atsar, hlm. 26.
[7] Dr. Al sayyed Ahmad Ibrahim Hammud, Al Hadhoroh Al Islamiyyah, Dar El Husain El Islamiyyah, behind Al Azhar University, Cairo, 2003, hlm 387 – 408.
[8] Dr. Abdul Aziz muhamad Al syanawi, Al Azhar Jami’an wa Jami’atan, juz 1, hlm. 107-108.
[9] Ali Abdul ‘Adhim, Masyikhoh Al Azhar Al Syarief, Al Majma’ El Buhuts El Islamiyyah, Cairo, 2009.
[10] Dr. Abdul Aziz muhamad Al syanawi, Al Azhar Jami’an wa Jami’atan, hlm. 143.
[11]Dr. M. Abdel Mun’im Khoffaji, Dr. Ali Bin Ali Shobih, El Harokah El Ilmiyyah Fi Al_Azhar, El maktabah el Azhariyah li El Turots, 9 Darbul Atrok, behind Al Azhar University, Cairo, 2007, hlm. 9-41.
[12] Dr. Abdul Aziz muhamad Al syanawi, Al Azhar Jami’an wa Jami’atan, juz 2, hlm. 480.
[13] Al Usbu’, Qohiroh, Egypt.
[14] Dr. Yusuf Al Qordhowi, risalatu al-azhar baina al ams wa al ghad, maktabah wahbah, kairo.
[15] Dr. Abdus shabur Asy syahin, islah bdus salam Ar Rifa’i , mishr fi Al islam al Qarn al awwal, al haiah al mishriyah al ‘Amah li al kitab, mahrojan al qira’ah lil jami’ 2001, maktabah al usroh kairo

Komentar
Posting Komentar